Detail Berita

  • Home
  • Detail Berita
image
  • By Admin
  • Sabtu, 20 Juni 2026

Akselerasi Program Ruang Bersama Indonesia (RBI) di Tanah Bumbu, Dua Desa Resmi Jadi Pilot Project

BATULICIN – Upaya menciptakan lingkungan yang inklusif bagi kelompok rentan terus digenjot oleh Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu. Melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), pemkab menggelar Sosialisasi dan Penguatan Komitmen Program Ruang Bersama Indonesia (RBI) di Ruang Mahligai Iman Kantor Bupati pada Jumat (19/06/2026).

Agenda ini dirancang untuk memantapkan kerja sama lintas sektor demi mengawal transformasi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) ke arah program RBI yang diprakarsai oleh Kementerian PPPA RI.

Keunggulan dan Lokasi Percontohan di Tanah Bumbu

Kepala DP3AP2KB Tanah Bumbu, Erli Yuli Susanti, mengungkapkan bahwa Tanah Bumbu menempati posisi strategis di tingkat provinsi. Dari seluruh wilayah di Kalimantan Selatan, hanya ada tiga daerah yang memperoleh pendampingan langsung dari kementerian pusat.

"Tiga wilayah di Kalsel yang terpilih adalah Kabupaten Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Tapin. Pada tiap-tiap kabupaten, ditunjuk dua desa sebagai percontohan peralihan dari DRPPA menuju Ruang Bersama Indonesia," urai Erli dalam sambutannya.

Untuk wilayah Tanah Bumbu sendiri, dua desa yang sah menjadi lokasi percontohan (pilot project) adalah:

  1. Desa Madu Retno (Kecamatan Karang Bintang)
  2. Desa Wonorejo (Kecamatan Satui)

Erli menambahkan, pemilihan kedua desa ini didasarkan pada hasil penilaian objektif serta rekam jejak pembinaan program pemberdayaan yang dinilai sukses berjalan sebelumnya. Ke depan, dua desa ini ditargetkan menjadi cetak biru (blueprint) bagi desa-desa lain di Bumi Bersujud.

Cakupan Lebih Luas dengan Tiga Pilar Utama

Berbeda dengan konsep DRPPA konvensional, program Ruang Bersama Indonesia (RBI) memiliki ruang lingkup yang jauh lebih masif. Program ini mengintegrasikan peran aktif dari unsur pemerintah, kelompok masyarakat, hingga pelaku usaha. Kolaborasi tersebut dijalankan demi memenuhi 3 pilar utama serta 11 indikator pembangunan yang fokus pada perlindungan gender dan anak.

Melalui sosialisasi ini, DP3AP2KB ingin memastikan seluruh pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang setara mengenai mekanisme kerja kelembagaan yang baru.

"Penyamaan persepsi sangat krusial agar implementasi di lapangan tidak tumpang tindih. Kami mengetuk dukungan dari seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk ikut mengakomodasi pemenuhan kebutuhan di tingkat desa," pungkasnya.

Sebagai informasi, tim pendamping dari Kementerian PPPA bersama dinas terkait sebelumnya telah turun ke lapangan untuk menyerap aspirasi, mengidentifikasi kendala, serta memetakan kebutuhan riil di kedua desa percontohan tersebut. Data-data yang dihimpun dari akar rumput ini nantinya akan digodok bersama OPD teknis terkait guna menyusun program intervensi yang tepat sasaran, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup perempuan dan anak.